20 May 2017

REKAYASA realitas ditampilkan pada pameran ”Phantasmagoria”. Pameran yang diikuti tiga seniman, yakni Robertus Adi, Nandanggawe, dan Dianspaun itu dihelat mulai 25 sampai 31 Januari 2017. Berlangsung di Galeri Wastu Sekolah Tinggi Desain Indonesia, Jalan Wastukancana, Kota Bandung, pameran ”Phantasmagoria” menyajikan karya yang telah melalui beragam olahan dan mengeksplorasi gagasan.

Kurator Jajang Supriyadi pada pengantar pameran mengungkapkan, tiga seniman yang sedang berpameran sedang merekonstruksi realitas melalui logika posisi fragmen-fragmen profane realitas. Karya seni adalah hasil dari pilihan dan pembacaan posisi terhadap realitas. Kerja kreatif selalu diawali sikap seniman menetapkan diri dan posisinya.


Sepanjang itu pula seni memiliki penampang kehadirannya.

”Pameran ini digagas kesadaran tiga seniman yang bekerja sama mengelaborasi dan memaknai posisi diri pada realitas. Tidak sepenuhnya disepakati sejak awal, melainkan melalui proses diskusi dan pertukaran pemikiran di antara mereka,” tutur Jajang.


Menurut Jajang, kerja kolaboratif yang terbangun dalam pro- sesnya mengacu pada pilihan masing-masing seniman untuk memberi dan mengisi setiap lapisan realitas dengan karya seni. Hal ini mirip seperti lintasan subjek yang memiliki rotasi sendiri kemudian membentuk lingkaran besar yang memberikan tegangan atau medan posisi pada makna realitas.


Menjejaki karya tiga seniman, kata Jajang, memberikan lintasan perjalanan dalam realitas yang berlapis dapat ditandai sebagai pengalaman seniman terhadap realitas. Oleh karena itu, makna ”Phantasmagoria” bagi seniman merupakan suatu ruang reposisi untuk merekam, meracik, atau menyikapi realitas. ”Memahami ’Phantasmagoria’ berarti mengunjungi lapisan tentang realitas yang belum sepenuhnya utuh. Pemerhati karya adalah ’pemilik’ lapisan realitas keempat. Pameran ini memberikan memori dan pengalaman seni auratik mengenai realitas,” tutur Jajang.


Pada karya Robertus Adi, pemirsa bisa melihat karya yang menelikung realisme melalui drawing. Jajang menyebutkan, Adi meminjam dan menggunakan imaji tentang kecantikan sebagai rekayasa yang diciptakan kehendak manusia. Tak heran jika objek pada semua karya Adi adalah perempuan dan sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, misalnya bunga dan kupu-kupu. Bagi Adi, realitas hadir melalui peneri- maan subjek terhadap gambaran imaji yang mengitarinya.


Salah satu karya Adi yang berjudul ”Offering” menggunakan medium oil pastel dan terdiri atas dua gambar berbeda yang saling berkaitan. Pada gambar pertama, ada seorang perempuan cantik yang sedang membawa apel merah di tangannya. Sementara pada gambar kedua, sosok perempuan ditampilkan penuh misteri karena matanya tertutup kain tetapi di keningnya ada satu mata yang terbuka dan sedang menatap.


Pada karya yang lain, Adi kembali membuat sosok perempuan yang diliputi tanda tanya. Karya berjudul ”Pseudo Eyes” itu menampilkan seorang perempuan yang sedang menatap lawannya. Pada rambutnya yang membentang di samping wajah ada pula dua mata besar yang juga sedang terbuka lebar dan menatap ke depan. Karya ini memakai medium oil pastel.

Selain karya sendiri, pada ”Phantasmagoria” juga ditampilkan karya yang merupakan ko- laborasi antarseniman. Salah satu- nya lewat hasil kolaborasi Adi dan Nandanggawe yang berjudul ”Pose & Mite #1”. Karya ini dibuat dengan medium oil pastel dan kolase di atas kertas.


Dengan teknik kolase, objek yang ditampilkan adalah perempuan dengan kepala bertanduk. Di pangkuannya ada wajah yang terlepas dari kepala. Di sekeliling perempuan, Adi menggambar beragam motif seperti mata, bunga, dan apel.


Kolase


Selain membuat karya berdua, Nandanggawe juga melahirkan karya solo. Seperti ciri khasnya, Nandang membuat karya dalam bentuk kolase di atas kertas. Sejumlah gambar absurd menjadi karakter karya Nandang. Pada penjelasan karya, kurator Jajang mengungkapkan, Nandang beker- ja dengan posisi melebur diri dalam realitas. ”Kolase merupakan cara kerja kreatif yang dipilih sebagai posisi yang menegaskan sikap menerima dan menolak realitas secara terus- menerus. Kolase dalam karya Nandang merupakan pergulatan diri dalam mengatasi realitas. Di dalamnya, tubuh manusia dibuat, direkayasa, dan dikreasikan ulang melalui hubungan tidak wajar untuk menghasilkan visual,” kata Jajang.


Salah satu karya Nandang berjudul ”Paralogi Raja-Ratu”. Karya dengan medium kolase di atas kertas ini menampilkan dua sosok laki-laki dan perempuan yang sedang melihat manusia berkepala tiga. Pada karya ini, Nandang menempel gambar-gambar yang dia buat sendiri, kemudian ditambahkan dengan potongan dari majalah. Dengan format seri, ada pula karya berjudul ”Seri Fragmen Anomali Tubuh”. Pada karya ini, Nandang membuat sembilan gambar kolase di atas kertas dengan objek beragam sosok manusia. Pemirsa pameran bisa melihat karakter absurd seperti alien yang ditampilkan.


Terakhir adalah karya Dianspaun. Pada karya ini Dian mengajak pemirsa pameran untuk berinteraksi lewat teknologi augmented reality yang harus diunduh lewat aplikasi telefon genggam. Kurator Jajang menjelaskan, sajian augmented reality karya Dian direkayasa melalui pengolahan imaji digital. (Windy Eka Pramudya/”PR”)***


Pikiran Rakyat 31 Januari 2017

Related News