23 May 2017

Menggunakan teknik dry point atau goresan kering dalam seni grafis, Andryana menggelar pameran “Lines of Violence”. Pada pameran yang berlangsung di Galeri Wastu Sekolah Tinggi Desain Indonesia, Jalan Wastukencana, Kota Bandung 25 sampai dengan 31 Januari 2017, pemirsa bisa melihat rentetan karya yang berkaitan dengan adu domba. Dengan detail, Andryana membuat gambar yang berkaitan dengan tradisi dari Kabupaten Garut tersebut. Pada pengantar pameran, Devy Ferdyanto menyebutkan, Andryana sudah lama mengolah tema adu domba pada karya-karyanya. Dia menangkap estetika unik dalam adu ketangkasan domba, baik dalam fotografi, maupun sketsa dan karya grafisnya. Tidak ada arena yang melingkupi adu ketangkasan domba dalam karya Andryana. Ia hanya memotret dari dekat perincian keindahan gestur, gerak, dan tanduk domba pilihan yang sedang berlaga.

Menurut Devy, di pameran ini, Andryana menerjemahkan kembali bentuk kekerasan yang dibalut estetik teknik dry point. Teknik ini menggunakan jarum yang ditoreh langsung ke atas pelat acuan cetak. Hal ini menghasilkan pengulangan dan penumpukan garis-garis variatif, yaitu tebal-tipis, keras-lembut, dan gelap-terang. Hasilnya, membentuk sosok domba yang berlaga. “Secara visual, teknik dry point memiliki ciri khas yaitu garis-garis yang dihasilkan lebih keras dan liar. Berbeda jika dibandingkan dengan teknik sketsa yang melahirkan garis garis yang lebih bersih dan mulus,”ungkap Devy.

Sejalan dengan tema, kata Devy karya grafis Andryana merepresentasikan keindahan dalam kekerasan. Salah satu karya yang ditampilkan adalah sketsa dua ekor domba yang baru selesai berlaga. Di atas kertas berukuran 44 x 44 sentimeter, Andryana memakai teknik 1/4 dry point. Dalam warna sephia, Andryana menggambar sketsa seekor domba yang berdiri gagah dan baru menjatuhkan lawannya. Di sisi yang lain, seekor domba terkapar. Pada karya yang lain, Andryana menggunakan warna hitam yang tertuang secara acak di atas kertas. Dalam pose sedang jatuh, seekor dombak digambar dramatis. Pemirsa pameran hanya bisa melihat bagian belakang kepala domba yang sedang terjatuh Di karya ini, Andryana memakai teknik 1/4 dry point di atas kertas berukuran 29 x 39,5 sentimeter. Karya Andryana tak melulu detail ditampilkan. Dalam bentuk sketsa yang samar, ada karya grafis di atas kertas berukuran 41,5 x 44 sentimeter. Pada karya ini, teknik 1/4 dry point mewujudkan gambar seekor domba yang hanya terlihat bagian badannya. Domba itu seperti sedang diserang karena Andryana menambahkan sedikit sketsa kepala dan tanduk domba di bagian atas badan.

Selain dalam bentuk seni grafis memakai teknik dry point, juga ditampilkan karya lukis Andryana. Pada karya ini, Andryana memakai teknik digital imaging di empat gambarnya. Masih menampilkan objek adu domba, efek sapuan kuas pada media foto yang dihasilkan lewat digital imaging membuat gambar menjadi tak biasa. Seolah-olah Andryana melukis secara konvensional tanpa sentuhan digital. (Windy Eka Pramudya/"PR")***

Pikiran Rakyat, 30 Januari 2017

Related News